Breaking

Sunday, February 5, 2012

Air Peradaban


Apa yang akan kita lihat pertama kali saat memasuki suatu kota yang baru pertama kali kita datangi atau sudah lama sekali tidak pernah kita datangi?   Kebanyakan orang akan memandang ke atas, dimana langit hampir dipenuhi dengan pilar-pilar raksasa yang berdiri dengan megah.  Memang demikianlah lambang kemajuan yang tertanam dalam pikiran banyak orang tentang  kemajuan suatu kota.  Suatu kota besar yang maju dengan kesepakan umum didefinisikan sebagai suatu wilayah yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan megah dan tinggi dengan puluhan lantai, mobil-mobil mewah dan bus-bus besar berlalu lalang memenuhi jalan raya yang lebarnya tidak pernah cukup bagi kendaraan-kendaraan tersebut.  Namun bagaimana dengan tampilan pada bagian bawah kota tersebut?

Pada kebanyakan negara berkembang, modernitas suatu kota hanya dipandang dari segi pembangunan infrastruktur yang megah tanpa memandang kualitas lingkungan yang semakin memprihatinkan.  Cukup mudah untuk melihat kualitas lingkungan di suatu kota, yaitu dengan mendatangi tempat-tempat terendah pada kota tersebut.  Bagaimana kondisi tempat-tempat tersendah tersebut, demikianlah kondisi lingkungan kota tersebut karena setiap materi yang membawa masalah mengalir seperti air yang selalu mencari tempat yang rendah.  Dan tidak bisa dipungkiri,  setiap masalah memang mengikuti air dan demikianlah air menjadi kurang dihargai karena selalu membawa masalah dalam kehidupan kota besar di banyak negara berkembang.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak lepas dari permasalahan lingkungan di kota-kota besarnya.  Jakarta, adalah kota yang menjadi beranda sekaligus ruang tamu negara ini tidak pernah lepas dari permasalahan air.  Pada sebagian sudut rumah ini sampah-sampah rumah tangga dan industri selalu diusahakan untuk menjauh dari sumbernya dengan memanfaatkan aliran air yang dipandang rendah karena disanalah tempatnya, tempat yang rendah.  Dampak yang cukup cepat dan jelas dapat terlihat, air sungai menghitam hingga membuat orang enggan untuk melihatnya.  Bau menyengat dan pekat menghambur ke segala arah hingga hampir menghilangkan jejak darimana asalnya.  Air kehilangan identitasnya sebagai sumber kehidupan, di banyak kota besar air lebih banyak dipandang sebagai sumber kematian.  Berbagai macam penyakit mengalir bersama melewati sungai-sungai yang telah terlupakan.
Dalam satu masa air kembali menjadi perhatian banyak pihak di Jakarta, bukan untuk dijaga namun untuk mencari cara bagaimana menyingkirkannya ketika tinggi muka air laut naik dan hujan deras mendera di bagian daratan yang lebih tinggi.  Sebagai solusi maka dibangunlah kanal-kanal yang dapat mempercepat aliran air agar dapat langsung mencapai laut tanpa mengganggu keamanan dan kenyamanan penduduk dan pemegang amanah.  Namun, seperti kebanyakan solusi teknis lainnya dalam menanggapi permasalahan lingkungan upaya ini akan mendatangkan permasalahan lainnya   seperti lagu “gali lubang tutup lubang”. Pada musim kering Jakarta benar-benar kering, muka air tanah turun menyebabkan rakyat kecil yang menggunakannya kesulitan untuk mendapatkannya.  Turunnya muka air tanah menurunkan tekanan tanah keatas sehingga muka tanah ikut turun karena tertekan gedung-gedung tinggi lambang kemajuan.  Ironis memang, saat berupaya terus membangun keatas, bagian bawah semakin turun kebawah.
Permasalahan di kota Jakarta bukan cerita baru seperti berita selebritis yang selalu up to date, atau berita korupsi yang selalu diperbaharui setiap harinya.  Permasalahannya seperti menjadi hal yang sangat biasa, seperti luka lecet di kulit, cukup di obati dan kemudian biar sembuh sendiri.  Demikianlah permasalahan di jakarta ditangani, dengan metode yang berbasis pada prinsip mekanik yang populer sejak revolusi industri 2 abad yang lalu.  Namun hasilnya bisa kita lihat sendiri, banjir tetap datang dengan rutin dan selokan hingga sungai semakin semerbak aromanya.  Lalu bagaimana seharusnya permasalahan tersebut ditangani?  Memang lebih mudah untuk bicara daripada bertindak, tapi akan lebih baik mencoba mendengarkan orang lain dan mempertimbangkannya daripada bertahan bahwa kita yang paling benar.   Bangsa Indonesia bukan bangsa yang tidak punya peradaban, kearifan terhadap lingkungan, budaya yang menghargai lingkungan.  Kearifan dan budaya itulah yang seharusnya di gali untuk memperbaiki lingkungan.  Banyak yang dapat diperoleh dari kearifan masyarakat tradisional yang hampir punah karna ditepikan peradaban yang berbasis antroposentris sempit dan serakah.
Last but the most important, inti permasalahan lingkungan yang kita hadapi secara global bukanlah kerusakan lingkungan yang menyebabkan berbagai bencana.  Penyebab utama kerusakan lingkungan adalah keinginan manusia yang tidak terbatas.  Jadi sebenarnya solusi permasalahannya cukup ringkas, “Batasi Keinginan Kita”.  Mungkin cukup banyak yang skeptis dengan solusi ini dan beranggapan ini akan sangat sulit,namun solusi ini akan cukup mudah diaplikasikan bahwa “Waktu Kita Singkat”.

No comments:

Post a Comment