Tumbuhan Ornamental Hutan Rawa Uncak Kapuas

Mungkin beberapa orang berpikir bahwa Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu sangat sedikit memiliki tempat hiburan. Tapi untuk beberapa orang yang lain, Putussibau memiliki banyak tempat refreshing yang benar-benar menyegarkan. Salah satunya adalah hutan relatif masih luas di sekelilingnya.

Jalan kaki di rawa gambut dengan panas yang menggerahkan berteman nyamuk nakal cukup mampu menyalakan tombol refresh. Berjalan di bawah kanopi pohon-pohon tinggi, mendengar nyanyian burung-purung pengicau, dan yang paling dramatis adalah... saat suara kepakan sayap-sayap Enggang meng Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan.

Meskipun bukan lagi hutan primer dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun beberapa spesies tumbuhan menarik khas daerah tropika relatif masih sangat mudah di temui di daerah hutan-hutan sekunder tersebut. Beberapa diantaranya dapat dilihat di bawah ini.


Kantong Nepenthes yang satu ini tampak kekar, dinding kantongnya memang tebal dan keras.

Nepenthes ampullaria, kantong kecil hijau
Sireh Hutan
Anggrek
Sarang Semut
Sarang semut, tumbuhan ini relatif mudah untuk di temukan di Kalimantan Barat pada umumnya. Relatif sangat mudah untuk ditemukan di pohon-pohon yang tumbuh di pinggirang sungai. Bahkan di pinggir jalan lintas selatan menuju Putussibau, kita bisa menemukan masyarakat memelihara tumbuhan yang satu ini. Tumbuhan yang satu ini dikenal memiliki khasiat yang besar untuk kesehatan. Salah satu masyarakat Kapuas Hulu yang memelihara tanaman ini, menceritakan bahwa salah satu anggota keluarganya berhasil menurunkan gula darahnya dalam waktu relatif singkat dengan mengkonsumsi rebusan daging batang tumbuhan sarang semut.

Kelam Hill, Natural Habitat of Nepenthes clipeata


Kelam Hill is the second largest rock in the world, the largest stone is the Great Stone in Australia. Located in the subdistrict Kelam Permai, it is approximately 19 km from the Sintang district capital. To reach the Kelam Hill Conservation Area. From Pontianak, you can use bus or other public bus that operates every day to Sintang for approximately eight hours. Followed by pioneering public transportation for 30 minutes to Kelam Hill Conservation Area.

Kelam hill has 900 meters above sea level height, with 600 meters vertical cliff walls. At the foothills  we can see a small area covered with tropical rainforest with some tropical tree species like meranti (Shorea sp), Bangeris (Kompassia sp), Tengkawang (Dipterocarpus sp), Kebas-kebas (Prodocarpus ceae). Moreover, it can be found in various types of orchids species. This conservation area is also habitat for some rare animals such as the bear (Herlarctos malayanus), Armadillo (Manis javanica), bats (Hiropteraphilie sp) and various species of birds.

The peaks are often covered by clouds, thats why at some spot, we can see masive moss covering the forest floor, stone or tree. It is easy to find some orchid species at the peaks. Alloy of tropical climate, high rugged mountains and very lack of nutrients made Bukit Kelam has a very unique micro climate to become habitat of an endemic  plants, Nepenthes clipeata. Bukit Kelam is the only natural habitat of these plants, it can be found growing on the cliff as wall creeper, or just crawling on stone.

Nepenthes clipeata, endemic pitcher plant species of Kelam Hill, Foto by Dony
Nepenthes clipeata in its natural habitat with some orchid species (Foto by Dony)
Since designated as a conservation area in 1992 with covers an ​​area of 520 hectares, Bukit Kelam has experienced two massive fire that destroyed allmost al of the ecosystem. All the large trees which formerly covering all the hill cliff are lost in a short time. The first fire occurred when drought hit in 1992 and the second occurred in 1997.

Before the wildfires, to reach the summit of Kelam Hill, visitor must climb the roots of large trees that cover the cliff. Today, the government has built ladders at some spots with different heights according to the height of the cliff that difficult to pass. The iron ladders located on the westface of Kelam Hill.

Up until now, Kelam Hill faces a variety of threats, this conservation area was surounded by palm oil plantations, the big trees at the foothills threatened by logging, and farming activity around this conservation area. While then, the highly rare and endemic species that can be found on the hill cliff, Nepenthes clipeata - are threatened by collectors.
Land clearing around Kelam Hill still threatening this Conservation Area
Apart from those problems, Bukit Kelam save a great resources. The natural sceneries of Kelam Hill are potensial for tourism, its rock cliffs are potential for outdoor activities -- especially rock climbing--, the unique plants (especially Nepenthes and Orchids) are potential for ornamental plants cultivation.

Tumbuhan Cantik di Bukit Wangkang

Bukit Wangkang ibarat pulau biodiversitas ditengah perkebunan monokultur yang tentu saja miskin dari keanekaragaman hayati. Mungkin tidak sekaya kawasan-kawasan konservasi, apatah lagi taman-taman nasional di Pulau Kalimantan, tapi jika ingin belajar tentang keanekaragaman hayati, tempat ini mungkin patut dipertimbangkan. Selain relatif dekat dengan kota Pontianak, Bukit Wangkang juga memiliki medang yang tidak terlalu berat, kecuali jalan menuju lokasinya yang masih berupa jalan perkerasan tanah merah perkebunan.

Akhir bulan Mei kemarin, saya dan beberapa teman dari kampus menyempatkan diri untuk camping dan ngetrack ringan di Bukit Wangkang. Ada beberapa misi yang ingin saya laksanakan dalam perjalanan ini, dan salah satunya adalah mendokumentasikan tumbuhan-tumbuhan eksotis di kawasan perbukitan ini. Alhamdulillah, ternyata misi tersebut bisa saya kerjakan terlepas dari bagaimana hasilnya. Berikut ini adalah beberapa foto hasil dokumentasi tumbuhan-tumbuhan cantik di Bukit Wangkang.
Anggrek Terestrial yang tumbuh di batu dekat air
Anggrek ukuran mini dan tumbuhan fern didekatnya
Kedua gambar diatas menunjukkan spesies anggrek yang sama, Anggrek ini menarik perhatian saya karena tempat tumbuhnya di batu-batu besar di sungai kecil yang senantiasa lembab, menempel seperti tumbuhan perintis.  Populasinya tidak terlalu banyak, ada yang tumbuh sendiri, ada juga yang berkelompok. Ukuran bunganya sangat kecil sehingga harus dilihat dari dekat untuk melihat bentuk bunganya. Melihat ukurannya yang mini, anggrek ini mungkin sangat cocok untuk menghiasi terarium atau paludarium.

Anggrek Terestrial yang tumbuh di batu dekat puncak bukit
Anggrek yang tumbuh di batu, daun tebal berlilin
Spesies anggrek yang kedua diatas tumbuh di batu juga, namun di tempat yang lebih kering dan mendapatkan banyak angin serta cahaya karena berada di dekat puncak bukit yang agak terbuka. Ukuran bunga anggrek ini juga sangat kecil, berwarna putih dan tampak menarik. Daunnya tampak lebih gelap daripada jenis sebelumnya dan tampak dilapisi lilin yang lebih tebal. Tempat tumbuh anggrek ini agak sulit dijangkau karena berada pada dinding batu-batu besar yang cukup tinggi.

Selain anggrek, spesies tumbuhan lain yang berhasil saya dokumentasikan adalah tumbuhan Hoya dan tumbuhan yang daunnya seperti tumbuhan Beludru, namun saya tidak bisa memastikan identitas sebenarnya dari kedua tumbuhan tersebut, fotonya sebaga berikut,

Hoya sp

Tumbuhan dengan Daun Beludru
Demikianlah sedikit informasi tentang tumbuhan-tumbuhan cantik di Bukit Wangkang Kubu Raya yang berhasil saya dokumentasikan, semoga bisa  menghibur, apalagi bisa memberikan informasi.
Terimakasih.

Jalan dan Berburu Tumbuhan Ornamental Kapuas Hulu

Aridarum surukense
Mendung menggantung di langit bumi Uncak Kapuas, saya duduk di depan rumah warga yang menumpangkan saya bermalam. Sesekali bukit-bukit yang berbaris di kampung ini diselimuti kabut, kadang tipis, kadang tebal. Tekad suda bulat, saya harus menjelajahi perbukitan itu, walaupun sejenak, walaupun tidak jauh, hanya menjejak dan mengenal apa yang mereka simpan untuk kita, manusia.

Menjelang pukul 7 saya berangkat menggunakan motor untuk sampai di jembatan yang menghubungkan desa ini dengan bukit yang ada di sisi timurnya. Tidak sampai lima menit, saya sampai di jembatan dan perjalanan dimulai. Seorang kakek-kakek melewati saya, ternyata beliau sedang dalam perjalanan menuju ke ladangnya yang berada di lereng bukit. Saya putuskan untuk mengikutinya mendaki bukit, daripada tersesat tanpa arah dan tujuan.

Lima belas menit berjalan, hujan dengan intensitas sedang turun. Antara enggan dan harus, saya memasang jas hujan yang memang saya bawa. Mina, itulah nama kakek yang menjadi pemandu saya dalam perjalanan ini. Kami berjalan sambil ngobrol, dari obrolan itu saya tahu bahwa beliau telah berumur lebih dari 70 tahun. Terkesiap rasanya, 40 tahun lebih tua dari saya, dan masih berjalan dengan tenang, saya sendiri sejak mulai mendaki sudah ngos-ngosan.

Setelah satu jam berjalan, akhirnya kami sampai di pondok ladang milik pak Mina. Kabut masih silih berganti membelai lereng bukit dimana ladang pak Mina berada. Masih harus menunggu langit agak cerah, baru padi di ladangnya bisa dipanen. Kabut menyebabkan padi basah, jika dipaksakan untuk dipanen, padinya tidak bisa disimpan untuk waktu yang lama. Tidak sabar ingin mendokumentasikan berbagai jenis tanaman unik di bukit itu, saya langsung berpamitan kepada pak Mina untuk turun kembali menuju kampung. Tentu saja perjalanan saya lakukan sambil mengambil gambar berbagai jenis tanaman ornamental yang potensial untuk menjadi tanaman hias. Hasilnya? Check it down.

Argostema sp
Argostema sp
Koloni Argostema
(Belum tahu nama spesiesnya)

Aridarum surukense
Aridarum surukense
Itulah beberapa jenis tanaman cantik dan unik yang saya temui dalam tracking yang saya lakukan beberapa bulan lalu. Semoga bisa menghibur para pembaca budiman.

Nepenthes di Danau Merebung, Kapuas Hulu

Kawasan rawa gambut adalah ekosistem unik yang pada saat ini semakin langka karena berbagai ancaman, terutama perluasan kawasan perkebunan monokultur. Karena uniknya ekosistem ini, maka hanya spesies-spesies tertentu yang mampu hidup di dalamnya. Salah satu kelompok tumbuhan yang umum ditemukan di kawasan rawa gambut adalah jenis Nepenthes atau Kantong Semar.

Danau Merebung adalah salah satu kawasan rawa gambut yang memiliki kekayaan Nepenthes yang melimpah. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan beberapa bulan lalu di danau tersebut, terdapat beberapa jenis Nepenthes yang bisa ditemukan, yaitu Nepenthes rafflesiana, Nepenthes bicalcarata, Nepenthes mirabilis dan Nepenthes gracilis.

Nepenthes rafflesiana

Kantung atas Nepenthes rafflesiana
N. rafflesiana termasuk jenis kantong semar kelompok dataran rendah, relatif mudah ditemukan di pulau Kalimantan. Nepenthes rafflesiana termasuk tumbuhan liana yang tumbuh memanjat hingga ketinggian 15 m dengan ketebalan batang hingga 10 mm. Ruas batang mencapai 20 cm. Sulurnya bisa mencapai panjang 110 cm. Kantong bawah dari N. rafflesiana berbentuk bulat dan membentuk sayap yang baik. Pada kantong yang bersifat terrestrial, ukurannya jarang melebihi 20 cm, meskipun bentuk raksasa dari N. rafflesiana dengan ukuran terbesar diketahui tumbuh sepanjang 35 cm dan lebar 15 cm. Kantong atas berbentuk corong, dan memiliki semacam lekukan di bagian depan pristom. Kedua jenis kantong ini memiliki karakteristik berupa leher peristome yang memanjang sampai 3 cm atau lebih.

Nepenthes bicalcarata

Kantung Nepenthes bicalcarata
Nepenthes bicalcarata termasuk jenis kantong semar habitat dataran rendah. Ciri utama dari Kantong Semar ini adalah adanya taring di bagian pangkal leher tutup kantongnya. N. bicalcarata bisa dikatakan sebagai kantong semar yang sangat unik karena adanya simbiosis antara tumbuhan ini dengan jenis semut tertentu, yaitu Camponotus schmitzi. Dalam hubungan simbiosis ini, nepenthes mendapatkan pasukan penjaga sekaligus pembersih kantong, sedangkan semut mendapatkan makanan berupa nektar dan atau sisa-sisa serpihan serangga lain yang tidak tercerna oleh cairan dalam kantong. Di sekitar danau merebung, bicalcarata ditemukan melimpah mulai dari tepi danau hingga beberapa meter kearah daratan.

Nepenthes gracilis

Koloni Nepenthes gracilis
Nepenthes yang satu ini mungkin yang paling luas penyebarannya diantara semua spesies lainnya setelah N. mirabilis. N. gracilis memiliki keunikan yang mungkin tidak dimiliki jenis nepenthes lainnya, yaitu adanya lapisan lilin di bagian bawah tutup kantong. Saat serangga berada di bawah tutup tersebut ketika hujan, air hujan yang jatuh ke tutup kantong menyebabkan hentakan yang menyebabkan serangga jatuh dan menjadi makanan bagi Nepenthes.
Di danau Merebung, N. gracilis relatif mudah ditemukan karena kelimpahannya seperti halnya N. bicalcarata.

Selain ketiga spesies Nepenthes, kemungkinan besar terdapat N. ampularia dan N. mirabilis, namun karena waktu yang singkat untuk mengamati Nepenthes, kedua spesies tersebut tidak ada yang nampak dan terdokumentasikan.

Kekayaan Alam Danau Merebung, Meliau, Kapuas Hulu

Jeritan bekantan memecah kesunyian diatas air yang berwarna merah pekat bahkan hitam. Setelah jeritan itu selesai, hanya suara kita yang akan terdengar ditelinga. Sriganti hilir mudik antara sarang dan bunga-bunga yang  menyediakan nektar untuknya. Kecuali burung-burung bernyanyi bersahut-sahutan, itupun hanya pada waktu pagi atau hari menjelang gelap, suasana akan sangat-sangat tenang, hening. Ketenangan yang kadang, mungkin, bisa membuat anda merasa sangat aneh jika anda terbiasa dengan keramaian kota.

Ketenangan itu bisa anda rasakan di Danau Merebung, suatu danau yang dilindungi masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian alam dan kekayaan sumber daya alam mereka. Danau Merebung terletak di Dusun Meliau, Desa Melembah, Kapuas Hulu. Danau ini berada satu hamparan dengan Danau Sentarum, lebih tepatnya lagi berada di tepian batas Taman Nasional Danau Sentarum sebelah timur.

merebung, melembah, meliau, tomistoma, fishing
Kondisi Vegetasi di Jalur Masuk Danau Merebung
Ditinjau dari salah satu aspek pendukung pengembangan wisata, yaitu aksesibilitas, Danau Merebung memang termasuk daerah terpencil, jauh, atau remote kata orang bule. Namun, posisinya yang jauh tersebut bisa justru menjadi salah satu keunggulan kawasan ini. Letaknya yang jauh menjadikan kawasan ini relatif terlindungi dari potensi kerusakan yang bisa terjadi, baik dari pihak luar yang ingin mengeksploitasi, maupun wisatawan ababil yang kurang sadar dengan kelestarian alam. Dengan kata lain, karena letaknya yang tidak dekat dengan keramaian, wisata di danau Merebung berkembang sebagai wisata eksklusif dan atau wisata minat khusus. Faktanya, Danau Merebung memang telah dikembangkan sebagai objek wisata oleh masyarakat Desa Melembah dengan didukung pemerintah dan beberapa lembaga swadaya masyarakat seperti WWF-Indonesia dan KOMPAKH. Jadi apakah yang menarik dari Danau Merebung sehingga layak dikembangkan sebagai objek wisata?
Baca juga:
Memelihara dan Mengkonservasi Biodiversitas
Objek Wisata di Kalimantan Barat
Camping dan Hiking Ramah Lingkungan

Sebagaimana jamak diketahui masyarakat Kalimantan Barat hingga masyarakat dunia, Kapuas Hulu yang masuk dalam kawasan Heart of Borneo merupakan salah satu pusat sebaran biodiversitas dunia, relief permukaan bumi yang khas menjadikan bentang alam diatasnya unik. Mulai dari area pegunungan hingga 2000 mdpl, hingga cekungan-cekungan yang menjadi area jebakan air sejak jutaan tahun lalu. Keunikan keanekaragaman hayati dan bentang alam inilah yang menjadi daya tarik dari Kabupaten Kapuas Hulu, dan Danau Merebung adalah salah satu bagian dari kekayaan Kapuas Hulu.
Pemandangan Danau Belaram, tidak jauh dari Danau Merebung
Danau Merebung merupakan bagian dari komplek Danau Sentarum yang menjadi cadangan pasokan air Sungai Kapuas pada musim kemarau. Kedalaman danau ini sekitar tiga meter, pada musim kemarau kedalaman ini hampir tidak berubah kecuali sedikit. Kondisi ini mungkin dipengaruhi kondisi gambut yang masih sangat terjaga sehingga air tidak hilang dengan cepat pada saat air Sungai Kapuas surut. Air yang tetap stabil pada setiap musim tentu sangat mendukung kehidupan berbagai jenis biota air didalamnya, termasuk juga satwa-satwa liar yang tinggal di sekitarnya.

Potensi ikan di danau inilah yang dimanfaatkan masyarakat dalam program wisata yang mereka kembangkan, yaitu wisata minat khusus memancing. Beberapa jenis ikan yang bisa ditemui di danau ini antara lain Toman, Kerandang (Gabus Bunga), Piyang (Gabus Batik), Piyam, bahkan ikan Arwana masih bisa ditemui di danau ini.  Mayoritas pengunjung danau Merebung datang untuk memancing. Kesepakatan masyarakat untuk melindungi danau dan pemanfaatan sumber daya ikan secara terkendali mendatangkan keuntungan bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Tangkapan Ikan Toman di Danau Merebung
Selain sumber daya ikan, satwa liar menarik lainnya adalah jenis primata, terutama Orang Utan dan Bekantan. Orang Utan di sekitar danau Merebung telah lama menjadi objek penelitian banyak ahli primata, termasuk dari lembaga swadaya masyarakat seperti WWF dan Forina. WWF sendiri memiliki camp penelitian orang utan di atas bukit tidak jauh dari danau. Untuk bekantan, mungkin tidak terlalu banyak penelitian yang dilakukan tentang mereka di danau Merebung. Seperti diceritakan diawal, jika beruntung kita bisa mendengar suara jeritan mereka saat pagi atau petang hari. Mungkin anda bisa melihatnya jika membawa teropong.

Satwa menarik lain dari danau ini adalah Buaya Senyulong yang juga terancam kelestariannya. Danau merebung merupakan salah satu habitat yang sangat sesuai untuk spesies buaya bermoncong panjang ini. Rendahnya intensitas keberadaan manusia dan sumber pakan yang melimpah menjadi faktor pendukung untuk reptil yang satu ini. Buaya Senyulong atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai False Gharial termasuk dalam kategori rentan oleh IUCN.

Tidak hanya satwa liar yang eksotis, Danau Merebung juga memiliki keanekaragaman flora yang sangat menarik. Berbagai spesies Nepenthes tumbuh dengan sangat baik di tepian danau yang kebanyakan merupakan rumpun yang mengapung diatas air. Suhu udara dan tingkat kelembaban yang pas menjadikan Danau Merebung sebagai habitat kantung semar yang sangat baik, berbagai jenis anggrek juga cukup mudah di temukan disekitar tepian danau ini.
Baca juga:
Nepenthes kurang Perhatian

Nepenthes bicalcarata
Salah satu fenomena alam yang paling menarik dari danau Merebung adalah adanya pulau terapung. Seperti disampaikan sebelumnya, tepian danau Merebung hingga beberapa meter sebenarnya terapung. Selain yang menempel pada tepian danau, ada juga bagian semak yang mengapung bebas di atas permukaan danau sehingga tampak sebagai pulau. Pulau-pulau ini bergerak mengikuti arus sungai atau arah angin. Kadang ia akan menyapa anda di tepi danau, beberapa jam kemudian ia bisa sampai ditengah danau, seperti menatap dan mengawasi dalam tenang dan diam.

floating island, meliau, melembah, fishing spot,
Pulau Terapung

Floating House Danau Merebung
Tertarik dengan tempat ini? Anda bisa terbang dari Pontianak selama 1-1,5 jam (tergantung cuaca) atau menggunakan Bus selama lebih kurang 13-14 jam sampai kota Putussibau. Dari Putussibau disambung perjalan bus selama tiga jam sampai Lanjak. Dari Lanjak perjalanan dilakukan lewat air  menggunakan speedboat selama lebih kurang tiga jam untuk sampai di desa Melemba Dusun Meliau. Dari Meliau, masyarakat setempat yang sudah menyediakan program ekowisata untuk pengunjung akan mengantarkan anda ke danau Merebung. Di salah satu sisi Danau Merebung terdapat floating house yang biasanya digunakan oleh wisatawan untuk istirahat dan bermalam. Kondisinya pada saat ini relatif masih sangat baik dan layak huni. Sesampainya disana, nikmatilah kekayaan alam Borneo yang luar biasa.
Asal Usul Earth sebagai Nama Bumi

Asal Usul Earth sebagai Nama Bumi

Sejak sekolah dasar kita semua sudah belajar tentang apa itu tata surya dimana bumi yang kita tinggali ini. Kita tahu nama-nama planet yang menghuni tata surya kita, bahkan kami yakin kita semua tahu darimana nama-nama planet tersebut berasal. Mars, Merkurius, Venus, Jupiter, adalah nama-nama planet tata surya kita yang berasal dari nama-nama dewa dalam peradaban romawi. Tapi ada satu planet yang anti mainstream dengan planet lainnya. Selain ada penghuninya planet ini memiliki nama yang asal katanya berbeda dengan planet-planet lainnya, itulah Bumi, planet yang kita tinggali. Pertanyaannya, darimana nama planet yang kita tinggali ini? Di Indonesia, kita menyebutnya Bumi, dalam Bahasa Inggris disebuat sebagai Earth, dll.
Penyebutan bumi dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Bhumi yang artinya tanah. Untuk nama yang satu ini tentu tidak jadi masalah dan mungkin cukup mudah bagi kita untuk memahaminya. Namun yang saat ini masih belum disepakati adalah penyebutan planet bumi dalam bahasa inggris, yaitu Earth.

Salah satu laman Answer.com pernah memuat dua pemikiran tentang asal nama Earth, yang pertama adalah kata atau nama bumi berasal dari kosakata Inggris Kuno (Old English-Anglo Saxon) yaitu eorthe. Eorthe sendiri merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Indo-European. Kata Eorthe dalam bahasa Indo-European (Jerman kuno) dipersonifikasikan sebagai Erde atau Erda yang memiliki arti daratan, permukaan, dasar dan sejenisnya.

Pemikiran kedua, kata earth berasal dari bahasa Mesir kuno. Earth  disebut juga dengan nama yang telah dideterminasi huruf hieroglif dengan panggilan plow.

Penggunaan nama Earth dalam bahasa Inggris dimulai sekitar 1000 tahun lalu, bahasa inggris yang merupakan perkembangan dari Anglo-Saxon dengan adanya migrasi dari beberapa suku Germanic. Pendapat ini mengatakan bahwa kata Earth berasal dari kata Anglo-Saxon erda dan dalam bahasa Jerman, artinya mirip dengan 'erde' yang artinya tanah.

Jika kita membaca sumber-sumber literatur yang banyak berasal dari barat maka dengan mudah kita bisa melihat bahwa kebanyakan literatur sekarang tidak mengentikan sumber mereka pada peradaban mereka sendiri. Jarang dari media sekarang menyebutkan sumber yang lebih tua lagi, seolah semua penemuan berasal dari peradaban mereka. Kenyataannya, tidak sedikit perkembangan ilmu pengetahuan berasal dari peradaban Islam. Seperti ilmu kimia yang perkataannya berasal dari al Kimia, matematika Aljabar, ilmu kedokteran yang dikembangkan oleh Ibnu Sina dlsbg. Bagaimana denga kata Earth?

Umat Islam yang bisa membaca alQuran tentu tahu bagaimana Al Quran menyebut bumi ini. Bumi ini dalam bahasa arab yang digunakan dalam Al Quran adalah Ard, bandingkan dengan penyebutan earth. Bagaimana bunyinya? Dengan perbandingan tersebut, rasanya tidak berlebihan kalau kata 'earth' punya akar kata yang sama dengan ard dalam bahasa arab. Penjelasan yang bisa jadi paling masuk akal adalah kata earth berasal dari bahasa Semitic yang merupakan induk dari bahasa Arab dan bahasa Hebrew.

Demikianlah sedikit bahasan tentang asalh usul kata earth, kesimpulannya, nama earth berasal dari kelompok bahasa tua yang disebut sebagai kelompok bahasa semitic.
Kebohongan Peta Indera Perasa Pada Lidah

Kebohongan Peta Indera Perasa Pada Lidah

Semua yang pernah tamat SD tentu tahu dengan diagram indera pengecap pada lidah. Diagram tersebut dipercaya sebagai peta yang menggambarkan persebaran indera pengecap berdasarkan jenis rasa yang diterimanya, yaitu manis, asin, pahit dan asam. Benarkah demikian? Steven Munger, seorang profesor yang bekerja di pusat Penciuman dan Pengecap University of Florida melalui akun Reddit-nya mengatakan bahwa diagram atau peta tersebut adalah sebuah kebohongan.

Peta lidah adalah sebuah kesalahan yang terjadi karena adanya kesalahan dalam penerjemahan literatur pada awal abad ke-20, kata pak Munger. Beliau percaya bahwa sumber naskah yang salah di translasikan itu adalah teks dari Jerman. Hingga saat ini, peta indera perasa tersebut masih digunakan, bahkan hingga ke buku teks perguruan tinggi.

Masalah modern yang muncul terkait dengan peta lidah tersebut adalah bahwa peta tersebut tidak memasukkan rasa umami. Masyarakat Indonesia mengenal Umami sebagai rasa gurih yang muncul dengan penambahan vetsin ke dalam makanan. Rasa umami tersebut telah diterima secara luas oleh para ilmuan yang mempelajari rasa dan bau. Dan ternyata, kita juga bisa merasakan rasa yang lebih banyak lagi seperti rasa lemak misalnya, namun rasa ini belum diteliti lebih lanjut.

Setiap papila pada lidah kita memiliki sekitar 100 reseptor rasa, ide tentang adanya papila spesifik untuk rasa spesifik dan gagasan bahwa papila tersebut dipisahkan menjadi empat area terpisah pada lidah telah dibantah setidaknya sejak tahun 1970-an. Namun mitos ini tetap bertahan, padahal kita sendiri bisa dengan mudah membuktikan benar atau tidaknya pendapat tersebut. Caranya cukup mudah, pada ujung lidah anda yang berdasarkan peta lidah adalah perasa manis, tempatkan sejemput garam diatasnya, maka anda akan merasakan asin.

10 Pohon-pohon Paling Luar Biasa di Dunia

Mereka adalah alveoli dari tubuh yang disebut sebagai bumi, mereka menangkap karbondioksida dan memberikan oksigen sebagai gantinya, mereka punya andil dalam membuat bumi ini sejuk dan layak kita huni. Mereka adalah pohon. Pohon adalah satu dari banyak hal luar biasa dari bumi yang kita cintai ini. Beberapa diantara pohon-pohon tersebut bahkan ada yang begitu luar biasa hingga mungkin sulit untuk dipercayai, tapi mereka nyata.

Berikut ini adalah cerita tentang 10 Pohon Paling Luar Biasa yang ada di muka bumi kita ini.

1. Metusalah - Pohon Tertua di Dunia

Bristle Pine Kredit Rick Goldwaser/Flickr
Metusalah dianggap sebagai pohon tertua di dunia, Metusalah adalah pinus bristlecone kuno yang hidup pada ketinggian 10.000 kaki di atas permukaan laut di Inyo National Forest, California. Pohon ini tersembunyi di antara pohon-pohon sejenisnya dalam hutan Kuno Bristlecone Pine Forest dari White Mountains, diperkirakan Metusalah berumur sekitar 5.000 tahun. Untuk perlindungan terhadap pohon luar biasa ini, lokasi keberadaannnya dirahasiakan oleh dinas kehutanan - yang berarti bahwa tidak ada orang yang tahu pasti seperti apa penampakan Metusalah, tapi pinus bristlecone kuno dapat digambarkan seperti foto di atas.

 2. Jomon Sugi

Jomon Sugi Kredit: Matius Bednarik/Flickr
Jomon Sugi memiliki tinggi hingga 83 kaki dan ketebalan 53 kaki, Jomon Sugi adalah tumbuhan konifer terbesar di Jepang. Cryptomeria japonica ini tumbuh di hutan tua yang berkabut di ketinggian 4.200 kaki di sisi utara gunung tertinggi di pulau Yakushima. Berdasarkan analisis sampel dan ukurannya, pohon ini diperkiraan berusia antara 2.170 hingga 7.200 tahun. Jika anda ingin melihat pohon ini, anda bisa berjalan kaki selama empat sampai lima jam setiap jalan.

3. Hyperion - Pohon Tertinggi di Dunia

Hyperion Kredit M. D. Vaden Landscape dan YouTube
Hyperion adalah pohon hidup yang tertinggi di dunia, menjulang hingga 379,1 kaki, pohon jenis redwood pantai ini(Sequoia sempervirens) ditemukan oleh Chris Atkins dan Michael Taylor di Redwood National Park California pada tahun 2006. Hyperion adalah pohon pejuang, pohon ini dapat bertahan di atas bukit, bukan di tanah aluvial datar. Pohon ini ditemukan setelah penemuan dua pohon tertinggi dari jenis yang sama, yaitu - Helios (376,3 kaki) dan Icarus (371,2 kaki) - yang keduanya juga mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Stratosphere raksasa.

4. the Hundreds Horse Chestnut

The Hundreds Horse Chestnut, Kredit LuckyLisp/Wikimedia Commons
Terletak di lereng timur Gunung Etna di Sisilia, the Hundreds Horse Chestnut (Castagno dei Cento Cavalli) tidak hanya yang terbesar, tetapi juga pohon kastanye tertua yang dikenal  di dunia. Sweet Chestnut ini diperkirakan berumur sekitar 2.000 hingga 4.000 tahun. Keindahan raksasa ini memegang Guinness World Record untuk "Pohon dengan Diameter Paling Tebal Sepanjang Sejarah," dengan keliling 190 kaki ketika diukur pada tahun 1780, tapi sejak itu telah dipisahkan menjadi tiga bagian, dan tidak lagi memegang rekor sebagai tersebut. Pohon mendapat namanya dari sebuah legenda di mana ratu Aragon dan rekan-rekannya seratus ksatria berlindung di bawah dahan pelindung selama badai.

5. El Arbol del Tule

El Arbol del Tule, Kredit Rodolfo Araiza G. / Flickr
Setelah the Hundred Horses tidak lagi memegang rekor untuk pohon dengan diameter terbesar sepanjang sejarah, gelar tersebut kemudian dipegang oleh El Arbol del Tule, yang hidup di dalam sebuah gereja dan terjaga keamanannya di kota Santa Maria del Tule di Oaxaca , Meksiko. Cemara Montezuma (Taxodium mucronatum) ini memiliki keliling sekitar 119 kaki, dengan ketinggian hanya 37
kaki. Sekedar perbandingan dengan ketebalan tersebut, dibutuhkan 10 mobil untuk membuat lingkarang yang mengelilingi pohon ini.

6. Pir Endicott - Pohon Budidaya Tertua di Dunia

Pir Endicott, Kredit Doug Peabody
Pada tahun 1630, seorang Inggris bernama John Puritan Endicott - menjabat sebagai gubernur utama dari Massachusetts Bay Colony - menanam salah satu pohon buah dibudidayakan pertama di Amerika. Setelah menanam pohon muda pir impor dari seberang lautan tersebut, Endicott menyatakan, "Saya berharap pohon ini akan mencintai tanah dari dunia lama dan tidak diragukan lagi bahwa ketika kita tela pergi, pohon ini masih akan hidup." Ternyata memang, 385 tahun kemudian, pohon ini di klaim sebagai pohon buah budidaya tertua di Amerika Utara ... dan hingga kini pohon pir ini masih berbuah.

7. General Sherman

General Sherman, Kredit: Mike Baird/Flickr
General Sherman bukan pohon tertinggi di dunia, bukan juga pohon dengan diameter terbesar di dunia, tapi dengan tinggi mencapai 275 kaki dan diameter sebesar 25 kaki pohon ini ditaksir memiliki volum sekitar 52.513 kaki kubik. Pohon ini diperkirakan berusia 2300-2700 tahun, karena itu pohon ini termasuk salah satu pohon tertua di dunia.

8. Jaya Sri Maha Bodhi

Jaya Sri Maha Bodhi, Kredit Wikimedia Commons
Jaya Sri Maha Bodhi dianggap sebagai salah pohon paling suci di dunia oleh masyarakat Budha. Pohon beringin ini berada di Anuradhapura, Sri Lanka, dikatakan bahwa pohon ini adalah cabang selatan dari pohon Bodhi yang dulu berada di India, di mana Sang Buddha mencapai Pencerahan. Pohon ini ditanam pada tahun 288 SM, dan dengan demikian pohon ini adalah pohon hidup tertua yang pernah ditanam oleh manusia di dunia. Pohon Jaya Sri Maha Bodhi dianggap salah satu peninggalan yang paling suci umat Buddha di Sri Lanka dan dipuja dan dikunjungi oleh umat Buddha di seluruh dunia.
Wikimedia Commons

9. Old Tjikko

Old Tjikko, Kredit Karl Brodowsky/Wikimedia Commons
Tinggi Old Tjikko adalah 16 kaki, cemara Norwegia ini tumbuh di Fulufjället Mountains di Swedia. Pohon ini mungkin tampak kurang mengesankan saat anda melihatnya pertama kali, tetapi jangan menilai sesuatu dari sampulnya. Old Tjikko adalah pohon berusia 9.550 tahun. Old Tjikko bukan pohon tertua di planet ini, tetapi adalah yang tertua untuk pohon tunggal bertangkai klonal - yaitu beberapa individu pohon yang sebenarnya satu individu berdasarkan sistem perakarannya yang hanya satu. Selama ribuan tahun iklim tundra yang brutal terus mendera Old Tjikko dan tumbuhan sekitaranya dalam bentuk semak, tetapi karena cuaca yang hangat, semak-semak tersebut tumbuh menjadi pohon besar.

10. Pando

Pando, Kredit Scottks/Flickr
Pando (Bahasa latin untuk "Saya menyebar") bukanlah satu pohon, melainkan koloni klonal tumbuhan Quaking Aspen; dengan usia 80.000 tahun, pohon ini adalah organisme hidup tertua di dunia. Yang berada di Utah dan dijuluki ""trembling giant," koloni yang terbentuk dari pohon-pohon yang identik secara genetik ini dihubungkan oleh sistem akar tunggal yang mencakup lahan seluar 105 acre. Hebatnya lagi, dengan beberapa perkiraan, hutan sekitar pohon ini bisa saja bermuru sekitar satu juta tahun. Pando juga memegang rekor mengesankan lainnya, pohon ini memliki massa sekitar 6.615 ton, sehingga pohon ini juga menjadi organisme hidup terberat di bumi.

Itulah 10 Pohon Paling Luar Biasa yang ada di bumi ini. Terlepas dari umur dan ukurannya, semua pohon adalah organisme yang luar biasa. Mereka adalah organisme yang Tuhan ciptakan untuk menjadi penyokong utama kehidupan manusia di muka bumi ini, karena itu selayaknya kita menjaga mereka.
Baca juga:

10 Kota Paling Terpolusi di Dunia

Hijau, namun mematikan - Chernobyl (Foto oleh Stefan Krasowski)
Dunia industri berkembang dari keinginan manusia untuk membuat hidupnya menjadi lebih mudah, namun hampir semua keinginan akan kemudahant tersebut malah membuat sebagian besar penduduk bumi menjadi kesusahan. Hal ini karena pengembangan industri yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, terutama lingkungan perkotaan yang menjadi sangat terpolusi oleh berbagai produk sampingan dari industri yang dijalanan di dalamnya.

Beberapa kota di dunia bahkan telah mengalami polusi yang begitu parah hingga bisa dikatakan tidak layak untuk dihuni oleh manusia. Kota mana saja yang termasuk dalam kota paling terpolusi tersebut?Berikut ini adalah 10 kota paling terpolusi di dunia.

1. Linfen, Cina

Kota Linfen via Wikimedia Commons
Linfen adalah salah satu kota di dalam wilayah Republik Rakyat Cina, Provinsi Shanxi. Kota ini dihuni sekitar 3 juta jiwa. Kota ini mungkin adalah kota paling terpolusi di dunia sehubungan dengan perannya sebagai pusat dari kawasan penambangan batu bara.
Kawasan perbukitan yang mengelilingin kota Linfen adalah kawasan pertambangan batu bara yang legal maupun illegal. Tinggal di kota ini, anda tidak akan bisa menghirup udara yang tidak mengandung aroma batu bara. Karena begitu terpolusinya kota ini, pakaian yang anda jemur akan menjadi hitam bahkan sebelum mengering.

2. Tianying, Cina

Penyebab utama masalah polusi di kota Tianying adalah timah dan logam berat lainnya. Tianying terletak di timur laut wilayah Cina, merupakan sebuah kota industri besar. Sayangnya kota ini dipimpin dengan kebikakan yang kurang baik. Kota ini sebenarnya memiliki tanah yang subur, namun sekarang telah dipenuhi dengan timah. Saat ini penghuni kota Tianying berhadapan dengan berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan timah. Masalah-masalah kesehatan tersebut termasuk diantaranya penurunan tingkat kecerdasan, halusinasi, hingga kehilangan ingatan.

3. Sukinda, India

Sukinda adalah kawasan pertambangan krom dan beberapa logam berat lainnya, yang sayangnya dilakukan secara berlebihan. Hingga 97% persediaan kromium India berasal dari kota ini, menghasilkan setidaknya 30 juta ton limbah yang menggunung. Hexavalent chromium, yang merupakan zat pemicu kanker yang kuat, dapat ditemukan berlimpah di perairan terdekat kawasan kota ini.
Bahan berbaya tersebut diyakini telah memenuhi udara, tanah, dan perairan dekat tambang kota ini dan diperkirakan telah menyebabkan berbagai jenis kanker pada sekitar 2,6 juta orang.

4. Vapi, India

Sebagian besar industri nasional India beraga di kota Vapi. Air dan tanah pada kota ini telah mengalami kontaminasi berat oleh berbagai bahan kimia berbahaya dan logam berat. Air tanah pada kota ini dilaporkan mengandung merkuri hingga 96 kali lebih tinggi dari pada batas aman yang ditetapkan oleh WHO. Terpapar merkuri secara berulang dalam waktu lama bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti lemah otot, gangguan penglihatan, dan masalah syaraf. Tidak hanya masalah air dan tanah, udara di kota Vapi juga mengandung logam berat.

5. La Oroya, Peru

Kota La Oroya adalah sebuah kota pertambangan di kawasan Andes.
99 dari 100 anak di dalam kota ini memiliki konsentrasi timah lebih tinggi dari pada batas yang dapat di terima tubuh manusia. Secara keseluruhan, penghuni kota ini memiliki kandungan timah hingga 3 kali lebih tinggi dari batas normal yang ditetapakan oleh WHO. Karena tingginya polusinya timah di kota ini, jika semua aktfitas pertambangan di hentikan pada saat ini juga, maka polusi timah masih akan bertahan hingga satu abad mendatang.

6. Dzerzhinsk, Rusia

Kota ini adalah kota dengan angka harapan hidup yang sangat rendah, pria biasanya meninggal pada umur 42 tahun, sementara wanita sedikit lebih lama, yaitu 47 tahun. Mungkin banyak hal yang bisa saja menyebabkan hal ini, tetapi penyebab utama yang disepakati banyak orang adalah tingginya tingkat polusi beracun yang terdapat di kota ini.
Antara 1930 dan 1998, lebih dari 300.000 ton limbah kimia dibuang di kota Dzerzhinsk. Berhubungan dengan kontaminasi bahan kimia, kota Rusia ini memegang Rekor Guinness untuk menjadi kota paling tercemar di dunia.

7. Chernobyl, Ukraina

Mungkin anda mengira bahwa Nagasaki dan Hiroshima adalah tragedi radiasi nuklir terparah di dunia, kenyataannya, tragedi Chernobyl bisa dikatan seratus kali lebih parah dari pada kejadian di kedua kota di Jepang tadi. Melelehnya pembangkit tenaga nuklir di kota ini telah membuatnya menjadi tidak layak huni, terutama dalam radius 19 mil dari lokasi pembangkit tersebut.
Lebih dari 4000 anak di Ukraina, Belarusia dan Rusia didiagnoasa menderita kanker tiroid. Untungny, tindakan pencegahan telah dilakukan dengan cepat untuk mencegah kebocoran radiasi ini menyebabkan masalah yang lebih parah.

8. Norilsk, Rusia

Diperkirakan hingga 4 juta ton limbah logam berat dan beracun lainnya telah dilepaskan ke udara kota Norilsk. Kota ini adalah pusat peleburan logam berat terbesar di dunia. Angka kematian penduduk kota ini akibat gangguan pernafasan begitu tinggi. Jika anda datang kekota ini, anda bisa melihat bahwa dalam radius 30 mil dari pusat peleburan nikel di kota ini, anda tidak akan menemukan pohon yang hidup.

9. Sumgayit, Azerbaijan

Kawasan buangan limbah industri kota Sumgayit adalah korban lain dari kelalaian Uni Soviet. Meskipun banyak pabrik tidak beroperasi lagi, polutan yang dilepaskan saat masih beroperasi masih ada di udara sampai hari ini. Di atas itu semua, tidak ada yang bersedia untuk mengambil tanggung jawab atas 120.000 ton emisi beracun yang terus memenuhi kota ini.

10. Kabwe, Zambia

Pada tahun 1902, deposit timah dalam jumlah besar di temukan di dekat kota ini. Hanya sedikit perhatian yang diberikan terkait dengan potensi masalah polusi dan kesehatan yang akan disebabkan oleh pertambangan logam ini. Konsentrasi timah pada anak-anak di kota ini bahkan sudah cukup untuk dikatakan berdampak vatal, atau paling tidak akan menyebabkan masalah kesehatan yang sangat serius.
Untungnya, sebuah proyek senilai 40 juta dolar amerika telah dilakukan untuk menangai masalah polusi timah di kota ini.

Itulah sepuluh kota paling tercemar di dunia. Mungkin anda tidak merasakan dampak langsung dari pencemaran di kota-kota tersebut, namun itu tidak berarti anda mengabaikannya. Apa yang terjadi pada kota-kota tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita agar bisa berperilaku lebih ramah lingkungan agar terhindar dari berbagai polusi yang berbahaya. Hiduplah ramah lingkungan untuk hidup kita dan generasi mendatang yang lebih baik.
Sumber: http://www.curiosityaroused.com/