Breaking

Monday, February 20, 2012

SIAPA SURUH DATANG JAKARTA

SIAPA SURUH DATANG JAKARTA
Siapa suruh datang Jakarta, adalah salah satu bait dalam sebuah lagu tentang Kota Jakarta.  Sudah banyak sekali lagu terinspirasi dari kota terbesar di Indonesia ini, seperti Iwan Fals (Jakarta) dan Steven and Coconut Trees (lagu Urban).  Beberapa lagu yang pernah saya dengar tentang Jakarta bercerita tentang kerasnya hidup dalam kota dengan kemacetan dan polusi udara dan air akut ini.  Banyak hal yang menarik banyak orang untuk datang ke Jakarta, namun tidak sedikit alasan sebaiknya anda berpikir berkali-kali untuk tinggal di kota Jakarta.
Kenapa banyak orang ingin Datang ke Jakarta.
Peluang kerja.  Lapangan kerja ini adalah alasan yang paling banyak mendasari banyaknya orang yang datang ke Jakarta.  Pola pikir seperti ini telah terbentuk sejak lama, sejak zaman orde baru.  Bukan salah mereka sehingga mereka menyimpulkan bahwa Jakarta adalah kota kesempatan, kota dimana peluang untuk hidup yang lebih baik terhampar.  Kesimpulan ini lahir dari kebijakan  sentralisasi yang menyebabkan uang beredar sangat besar di Jakarta, sementara di berbagai daerah mengalami kemiskinan.  Kedekatan dengan mempermudah urusan untuk wirausaha, walaupun tidak sedikit kebijakan siluman yang dapat kita temui saat berurusan dengan pemegang kebijakan.  Jika anda beruntung, tidak sulit memperoleh gaji diatas 5 juta, bahkan 10 juta, sedangkan didaerah butuh puluhan tahun untuk mendapatkan gaji  diatas 3 juta.  Meskipun dalam kenyataannya banyak yang terjebak di kehidupan metropolitan ini.  Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Peluang Pendidikan.  Meskipun perguruan tinggi di Jakarta jauh dari peringkat terbaik di dunia,namun tidak dapat dipungkiri tingkat pendidikan di Jakarta termasuk yang tertinggi di Indonesia (jika tidak dapat dikatakan yang tertinggi).  Banyak sekolah-sekolah dan universitas di Jakarta dan sekitarnya memiliki kualitas pendidikan yang relatif lebih baik dibanding daerah lain di Indonesia.  Namun dengan sistem desentralisasi otonomi setelah reformasi, banyak daerah mulai bergerak maju dalam dunia pendidikan.
Hiburan.  Taman mini Indonesia Indah, Taman Impian Jaya Ancol, Dunia Fantasi dan banyak lokasi wisata lainnya yang dapat kita kunjungi di Jakarta.  Jakarta menjanjikan berbagai hiburan, bahkan 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.  Mulai dari pengamen dalam angkot dan metromini hingga diskotik-diskotik dengan tarif yang mungkin hanya dapat diakses oleh kaum borjuis.  Jakarta juga memiliki akses yang cukup dekat dengan kota lain yang juga memiliki tempat-tempat pariwisata yang menarik seperti Bogor dan Bandung.

Kenapa sebaiknya anda tidak tinggal di Jakarta? (untuk orang yang bukan asli jakarta/ berencana pindah ke Jakarta.
Peluang kerja.  Kondisi perekonomian saat ini yang sudah mengalami desentralisasi membuat perekonomian di daerah sedikit meningkat (Sedikit karena kenyataannya pusat pemerintahan dan pusat banyak perusahaan berada di Jakarta).  Jika anda telah menyelesaikan pendidikan anda, pikirkanlah untuk memajukan daerah asal anda menjadi kota yang lebih baik dari Jakarta.
Degradasi budaya dan moral.  Pengalaman pribadi saya saat naik metromini di Jakarta, dengan ringannya supir (umur 25-30an) mengumpat seorang anak kecil yang membantunya menjadi kenek dengan kata “Anj*ng”.  Hal seperti ini tidak sulit di temukan di Jakarta.  Derasnya arus globalisasi menggilas hampir semua budaya timur di kota ini.  Silahkan saksikan sendiri di layar kaca dirumah anda, sinetron-sinetron, berita-berita, acara-acara hiburan musik dan lain sebagainya mempertontonkan prilaku yang dulunya tabu menjadi “layak di perbincangkan”.  Sajian-sajian tersebut adalah cerminan gaya hidup masyarakat  di kota Jakarta, pikirkan kembali jika anda memutuskan untuk membesarkan anak anda di Jakarta.
Kemacetan.  Pergi kerja jam lima pagi untuk menghindari macet dan pulang kerja jam 10 malam karena kemacetan di jalan.  Tidak berlebihan jika Jakarta dikatakan sebagai salah satu kota termacet di dunia.  Banyak orang menghabiskan sebagian harinya di jalan, jarang bertemu anggota keluarga serumah apalagi tetangga.  Jika dalam sehari anda menghabiskan hingga enam jam di jalan dan anda hidup selama 60 tahun, maka dalam 60 tahun itu 15 tahunnya anda habiskan di jalan.
Polusi.  Tanah, air dan udara sudah terpolusi di Jakarta, tidak ada yang tersisa.  Jika anda ingin melihat kualitas lingkungan suatu kota maka lihatlah sungainy, di Jakarta bahkan sungai dapat menyebabkan polusi udara yang sangat mengganggu hidung anda.  Udara panas terasa gerah karena panas matahari terjebak dalam udara dengan kandungan CO2 yang tinggi.  Tidak banyak orang tahan dengan panas ini sehingga penggunaan air conditioner bukan lagi hal yang mewah, hal ini semakin memperparah kondisi udara.
Jika mengurus Jakarta yang pusat pemerintahan belum baik, bagaimana kita berharap daerah lain akan diperhatikan dengan baik.
Indonesia bukan hanya Jakarta (Iwan Fals). 

No comments:

Post a Comment