Breaking

Saturday, March 31, 2012

BBM tidak jadi naik?

Mungkin saat ini jutaan rakyat Indonesia sedang mengucapkan syukur atas harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak jadi dinaikkan oleh pemerintah berdasarkan penolakan oleh DPR.  Dari rangkaian peristiwa ini terselip sebuah pertanyaan, kenapa pemerintah ingin menaikkan BBM dan kemudian tiba-tiba tidak jadi?
Harga minyak dunia yang semakin mengkhawatirkan sejak isu perang merupakan salah satu alasan yang ‘mungkin’ bisa membenarkan kenaikan harga BBM oleh pemerintah.  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menjelaskan, pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ ICP) terus menunjukkan grafik kenaikan sejak Desember 2011. Pada Desember 2011, harga ICP sebesar US$ 110 per barel. Kemudian, pada Januari 2012, harga ICP terus naik menyentuh angka US$ 115 per barel.

Pada Februari 2012, harga terus melonjak drastis pada Februari menjadi US$ 122/barel.
Namun sepertinya para pemimpin kita tidak melihat kebawah apa yang akan terjadi dengan kenaikan harga (pengurangan subsidi) tersebut, terutama dampak terhadap rakyat kecil yang akan langsung berhadapan dengan kesulitan ekonomi yang lebih parah.
Dalam menghadapi kenaikan harga minyak dunia, rakyat ‘kecil’ di Indonesia dijanjikan dengan subsidi langsung untuk meringankan hidup mereka.  Bukankah ini sebuah upaya yang akan semakin memanjakan rakyat, dan bahkan mungkin menghina rakyat.
Kenapa subsidi langsung tersebut tidak diarahkan kepada perbaikan fasilitas umum dan infrastruktur di berbagai daerah, sehingga rakyat kecil akan lebih mudah mendapatkannya.  Seperti  sekolah, jalan, pasar, dan lain-lain, paling tidak walapun harga BBM mahal para petani yang kebanyakan masih berada di bawah garis kesejahteraan dapat memasarkan produknya, anak-anak yang jauh dari sekolah bisa pergi kesekolah yang lebih dekat.
Mari kita lihat kondisi negara kita saat ini, Pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan 60% atau 50,15 juta orang pekerja yang dibayar (karyawan) di Indonesia masih berpenghasilan rendah (Rata-rata penghasilan mereka US$ 2.284 per tahun) membuktikan hal itu. Jika setiap pekerja menanggung seorang istri dan 2 anak, maka setiap orang pendapatannya cuma US$ 1,5/orang/hari.  Secara matematis, lebih dari 75% rakyat Indonesia penghasilannya di bawah dari US$ 2/orang/hari!
Kasus korupsi hampir semuanya masih abu-abu, kasus Century yang sudah jarang kita dengar perkembangannya, kasus suap pemilihan deputy Bank Indonesia, kasus wisma atlet yang menyeret beberapa nama di DPR. Kondisi-kondisi ini membuat pemerintah dan wakil rakyat semakin kehilangan kepercayaan dari rakyat, bahkan mungkin akan menyebabkan rakyat menjadi apatis terhadap politik.
Menyikapi penundaan kenaikan harga BBM hasil sidang DPR, apakah kita harus sangat berterima kasih kepada para anggota dewan yang terhormat?  Sejak diumumkan ke publik, berita kenaikan BBM menjadi topik utama di berbagai media, warung kopi, hingga rumah tangga.   Namun sadarkah kita bahwa isu kenaikan BBM ini telah membawa kita menjauh dari kasus-kasus yang sebenarnya juga sangat memiskinkan negara ini?  Dan sekarang saat harga BBM tidak jadi dinaikkan, kita akan semakin jauh dari kasus-kasus tersebut karena mungkin akan banyak rakyat yang menganggap mereka sebagai pahlawan rakyat yang berhasil memperjuangkan nasibnya.
Sidang paripurna di DPR telah menunjukkan kepada kita bahwa politik memang kejam, dan setiap orang atau kelompok senantiasa mencari kesempatan untuk kepentingan mereka masing-masing.  Kepentingan mereka adalah persepsi rakyat terhadap mereka.  Selanjutnya, yang sebaiknya kita lakukan sekarang adalah tetap berpikir logis dan tidak terbawa satu isu yang akan mengendapkan isu sebelumnya yang juga penting sehingga terhindar dari pembohongan yang membawa kita ke hidup yang lebih sulit.

Bacaan:




No comments:

Post a Comment