Breaking

Monday, May 7, 2012

Environmentaly Sensitive Design

Environmentally Sensitive Design merupakan pendekatan pembangunan lanskap dengan meminimalisir efek berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.  Hal ini dapat membantu komunitas masyarakat dalam mencapai keseimbangan antara pertumbuhan dan kebutuhan komunitas, hasrat dan kualitas hidup.  Terdapat beberapa prinsip dasar dari Environmentally Sensitive Design yang dapat diaplikasikan di berbagai situasi lanskap.  Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah

(1) membatasi pengerusakan lahan; (2) menghindari penggunaan lahan yang memiliki kemiringan curam dan lahan basah; (3) melindungi habitat dan area yang dianggap penting, berupa lingkungan alami, habitat satwa liar, daerah rawan banjir, lahan basah, penyangga sungai dan area historis; (4) membatasi permukaan yang tidak tembus, dan (5) menyediakan manajemen badai yang efektif dan inovatif.  (www.growsmartmaine.org dan Geosyntec Consultant, 2011).  Selain itu, prinsip tambahan yang cukup penting adalah dengan menggunakan material lokal yang ramah lingkungan (www.primemortar.com).

Cara menentukan batas sensitivitas lahan adalah dengan langsung mengunjungi dan menganalisa lanskap dimana situs akan dibangun.  Penggunaan peta USGS  juga dapat membantu identifikasi (sumber: www.growsmartmaine.org).  Menurut Simons (1978), analisa yang perlu diperhatikan pada perencanaan dan design lanskap berwawasan lingkungan meliputi analisa fisiografi (geologi, hidrologi, iklim, biologi), topografi (bentuk tanah, bentukan alam, bentukan yang dibuat manusia), dan budaya (pengaruh sosial, politik, hukum dan faktor ekonomi). 

Contoh hipotetik pada tipe lanskap yang sensitif: Pada perumahan berbasis lingkungan, pembangunan dilakukan dengan menghindari lahan yang curam dan lahan basah untuk menghindari longsor yang mungkin terjadi jika dilakukan pengerukan, menjaga keseimbangan ekologis dengan mempertahankan lahan basah sebagai buffer zone sekaligus melakukan penghematan biaya produksi dari kegiatan rekayasa lingkungan yang beresiko.  Pembatasan permukaan yang tidak tembus dilakukan dengan cara mengurangi penggunaan bahan penutup tanah seperti aspal dan semen, digantikan dengan permukaan tanah yang ditutup rumput hijau atau tanaman lain.  Teknologi penanggulangan bencana alam (terutama badai) yang inovatif dan efektif dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan dan perasaan nyaman oleh para penghuni perumahan, sekaligus meminimalisir kerusakan bangunan dan fasilitas lain yang disediakan.

Referensi:
Geosyntec consultants. 2010. Effectiveness of Environmentally Sensitive Site Design and Low-Impact Development on Storm Water Runoff Patterns at Partridgeberry Place Lid Subdivision in Ipswich, MA.  Massachusetts.
Simonds, John Ormsbee.  1978.  Earthscape: A Manual of Environmental Planning.  USA: Mc-Graww-Hill, Inc.
www.growsmartmaine.org [akses tanggal 30 Oktober 2011]
www.primemortar.com [akses tanggal 30 Oktober 2011]

No comments:

Post a Comment