Breaking

Wednesday, January 9, 2013

Wisata Sejarah Kota Banda Aceh

Banda Aceh, salah satu kota yang paling heroic di Indonesia. Peristiwa-peristiwa paling bersejarah di Indonesia tercatat di kota yang menjadi ibukota Serambi Mekah ini. Berbagai peristiwa sejarah tersebut meninggalkan berbagai kisah dan artefak yang saat ini masih dapat kita lihat dengan jelas di berbagai sudut kota ini. Benda-benda tersebut mengisahkan kejayaan Kesultanan Aceh yang sempat menjadi kerajaan Islam terbesar kelima di dunia pada zamannya, kisah invasi belanda yang meluluhlantakkan kerajaan yang berwibawa tersebut, hingga bencana tsunami yang meminta korban ratusan ribu jiwa dalam sekali jalan. Bencana tsunami ini menjadi bencana alam terbesar dalam pembukaan milenium ketiga ini. Beberapa saksi bisu sejarah kebesaran Kesultanan dan kesabaran masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai bencana yang melanda Serambi Mekkah ini antara lain:

Mesjid Raya Baiturrahman,
Masjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh ini merupakan saksi bisu berbagai kejadian yang tertulis dalam sejarah Aceh, dan merupakan kebanggaan masyarakat Aceh. Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan  Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di  Nusantara. Peristiwa penting dalam sejarah Aceh yang terjadi di Mesjid ini misalnya perang dengan Belanda(1873-1904) dan tsunami akibat gempa 8,9 SM tahun 2004. Didepan masjid terdapat sebuah menara yang disebut dengan “Menara Daerah Modal/Tugu Modal” setinggi 45 m dengan hiasan Boh Rue Aceh di puncak menara. Luas tanah mesjid keseluruhan kini menjadi 31.000 m², ruangan dalam berlantai marmer buatan Italia, luas bangunannya mencapai  4.760 m2 dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan Mesjid. Mesjid ini merupakan salah satu Mesjid yang terindah di Indonesia yang memiliki tujuh kubah, empat menara dan satu  menara induk. Mesjid ini  dapat menampung hingga 9.000 jama‘ah. Di halaman depan masjid  terdapat sebuah kolam besar, rerumputan yang tertata rapi dengan tanaman hias  dan pohon kelapa yang tumbuh di atasnya.
Pada saat kejadian tsunami, masjid ini menjadi salah satu tempat berlindung bagi masyarakat.

Kompleks Museum Aceh,
Museum aceh terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah dan berdiri diatas tanah seluas 10.800 m2, museum ini dikelola oleh Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (BAPERIS) Pusat. Sebagian besar koleksi benda bersejarah di museum aceh adalah benda yang di kumpulkan oleh F.W. Stammeshaus, yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh pertama. Di museum ini disimpan juga koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka dari pembesar Aceh. Museum Aceh memiliki beberapa jenis koleksi benda bersejarah, yaitu:

  • Benda arkeologis, yaitu benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Aceh pada masa lalu.
  • Benda Biologis, yaitu koleksi awetan berbagai jeni makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan.
  • Benda Etnografi, yaitu benda-benda yang menunjukkan peninggalan hasil budaya dari suku bangsa – suku bangsa Aceh yang hingga kini masih dipergunakan oleh masyarakat.
  • Serta benda-benda bersejarah lainnya seperti Naskah-naskah lama, koleksi geologis, benda sejarah dan prasejarah, keramik, mata uang kuno, seni rupa dan teknologi.
Taman Putroe Phang,
Taman Putroe Phang berlokasi tidak jauh dari bekas istana Sultan Iskandar Muda yang kini menjadi rumah dinas gubernur Aceh. Istana dan Taman Putroe Phang dihubungkan oleh bangunan yang disebut Pintoe Khop. Didalam taman ini terdapat sebuah  bangunan yang disebut Gunongan. Gunongan dibangun oleh  Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya, Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Pahang,  Malaysia.  Gunongan terletak di Jalan Teuku Umara berhadapan  dengan lokasi perkuburan serdadu Belanda (Kerkoff). Bangunan ini didirikan pada masa  pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) pada abad ke-17. Bangunan Gunongan tidak terlalu besar, bersegi enam, berbentuk seperti bunga dan  bertingkat tiga dengan tingkat utamanya sebuah mahkota tiang yang berdiri  tegak. Pada dindingnya ada sebuah pintu masuk berukuran rendah yang selalu  dalam keadaan terkunci. Dari lorong pintu itu ada sebuah tangga menuju ke  tingkat tiga Gunongan.

Pendopo,
Pendopo dibangun tahun 1880, merupakan salah satu situs sejarah pada masa penjajahan Belanda yang didirikan persis diatas peninggalan istana kesultanan Aceh. Pendopo merupakan salah satu pembangunan awal kolonial Belanda di Aceh. Pendopo juga merupakan bekas kediaman Gubernur Belanda dan pada saat ini menjadi rumah dinas Gubernur Aceh.

Kerkhof Peutjoet
Kerkoff berasal dari  bahasa Belanda yang berarti kuburan, sedangkan Peutjoet atau asal kata dari Pocut (putra kesayangan) Sultan Iskandar Muda yang dihukum oleh ayahnya sendiri (Sultan Iskandar Muda) karena melakukan kesalahan fatal dan dimakamkan di tengah-tengan perkuburan ini. Sejak kedatangan pertama Belanda di Aceh dan selama masa penjajahan Belanda di Aceh banyak korban berjatuhan, baik dari pihak masyarakat Aceh maupun dari pihak serdadu Belanda. Serdadu-serdadu belanda yang tewas di Aceh dimakamkan di suatu Kerkhof Peutjoet. Pada pemakaman ini terdapat kurang lebih sekitar 2.200 makam orang Belanda, mulai dari yang berpangkat serdadu sampai dengan yang berpangkat Jenderal. Makamnya mulai dari berbagai suku bangsa yang tergabung dalam tentara kolonial Belanda pada saat itu sampai kepada makam sekelompok orang Yahudi yang dulu pernah tinggal di Aceh. Bahkan, pada kuburan tersebut masih dapat dibaca nama-nama dan pangkat para tentara serta tahun-tahun dan tempat-tempat dimana mereka gugur.

Kompleks Makam Sultan Iskandar Muda
Kompleks Makam ini berada satu kawasan dengan Pendopo (rumah dinas Gubernur Aceh saat ini). Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Aceh pernah mengalami kejayaan saat Sultan memerintah Kerajaan Aceh pada tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda mampu menempatkan Kerajaan Aceh pada peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke-16.

Lapangan Blang Padang
Di lapangan ini terdapat museum tsunami, untuk memperingati bencana tsunami ini juga dibuatkan dua buah tugu di Lapangan Blang Padang yang berdekatan dengan Monumen Pesawat RI 001 Seulawah. Dua tugu tersebut adalah Tugu Peringatan Tsunami dan Tugu Aceh Thanks The World yang merupakan tugu untuk ucapan terima kasih kepada negara-negara yang telah memberikan bantuan untuk Aceh (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2011). Pesawat Seulawah yang dikenal RI-1 dan RI-2 merupakan bukti nyata dukungan yang diberikan masyarakat Aceh dalam proses perjalanan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Pesawat Seulawah dibeli dengan harga US$120.000 dengan kurs pada saat itu atau kira-kira 25 Kg emas dan untuk mengenang jasa masyarakat aceh tersebut maka di buat replika pesawat seulawah yang berada di Lapangan Blang Padang Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh.

No comments:

Post a Comment

Adbox